Peneliti UI Temukan Bukti Baubau Warisan Budaya

Baubau, Sultra (ANTARA News) – Tim Peneliti Sejarah Universitas Indonesia (UI) dalam seminar akhir penelitian yang digelar di Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) menemukan bukti bahwa Kota Baubau merupakan sebagai kota Warisan Budaya Maritim di Indonesia.

Salah Seorang tim peneliti sejarah, Dr. Tono Rudiansyah di Baubau, Selasa mengatakan, Nama Buton (Butun) pertama kali disebut pada tahun 1365 di dalam Negarakartagama sebagai wilayah taklukan Majapahit.


View the original article here

Pengamat: Kisah Sawerigading Jadi Cermin Budaya Bugis

Makassar (ANTARA News) – Pengamat budaya dari Universitas Negeri Makassar, Prof Dr Muhammad Rapi Tang, menilai bahwa kisah mengenai pelayaran Sawerigading yang tertuang dalam sastra La Galigo menjadi cermin nilai-nilai budaya masyarakat Bugis.

“Banyak nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kisah pelayaran Sawerigading ke negeri China untuk mencapai tujuan hidupnya,” ungkapnya di Makassar, Selasa.

Menurut dia, kisah pelayaran Sawerigading tersebut merupakan cerita rakyat Bugis yang secara khusus bertema kekerabatan.

Artinya, inti persoalan dalam kisah ini adalah hal ikhwal kekerabatan dengan berbagai macam norma atau tata nilai serta persoalan yang melingkupinya.

“Salah satu simbol yang tercermin dalam kisah ini adalah usaha dan kerja keras guna mewujudkan hasrat yang menjadi tujuan hidup, yakni kebahagiaan lahir dan batin,” tuturnya.

Dalam kisah tersebut dituliskan bahwa pelayaran Sawerigading dipenuhi hambatan serta tantangan, dan bahkan hampir tidak ditemukan ketenangan hingga ia sampai di negeri China.

Tantangan dan hambatan tersebut tidak bisa menggoyahkan semangat untuk bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

“Secara umum, cerita ini juga menjelaskan bahwa laut adalah simbol kehidupan bagi masyarakat Bugis, dan perahu adalah sarana yang dapat mengantarkan dalam meraih tujuan hidup,” katanya menambahkan.

Tidak hanya itu, berbagai peristiwa hidup yang dikisahkan juga mencerminkan budaya penegakan hukum, dimana pelanggaran terhadap hukum dianggap sebagai suatu kezaliman.

Budaya perdagangan yang juga disampaikan dalam cerita ini tidak semata-mata bermakna usaha untuk mencari keuntungan materi semata, melainkan juga menjadi sarana untuk berinteraksi dengan masyarakat lain.

“Hal fundamental dari tema kekerabatan pada kisah ini adalah mengenai norma dan tata nilai yang dianut dan dipatuhi, meskipun dalam implementasinya mengandung konsekuensi moril dan materiil dengan segala kompleksitasnya,” jelasnya. (ANT-103/K004)

View the original article here

Atraksi Budaya Ramaikan Peresmian Museum Batak

Tobasa, Sumut (ANTARA News) – Atraksi budaya Batak akan dipersembahkan sejumlah siswa SLTA Tobasa, untuk meramaikan peresmian museum modern Batak terbesar di lingkungan TB Silalahi Center Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatra Utara.

“Acara itu akan diadakan pada 18 Desember 2010 mendatang, dengan menggelar pentas budaya Batak, diselingi hiburan,” ujar Ketua TB Silalahi Center, Masrina Silalahi, di Balige, Rabu.

Ia mengatakan, acara `grand opening` direncanakan 15 Januari 2011, yang diharapkan akan dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yodhoyono.

Menurut Masrina, museum ini dilengkapi dengan peralatan canggih yang mampu menampung sekitar 1.000 pengunjung. Di depan gedung, dibangun patung si Raja Batak setinggi hampir tujuh meter, dan di bawahnya dibuat relief Danau Toba.

Museum ini, katanya, akan menyimpan koleksi budaya Batak artefak kuno milik raja-raja Batak yang dikumpulkan dari berbagai tempat di dalam negeri maupun luar negeri.

“Koleksinya mulai dari jenis perabot, pakaian, alat tukar, pusaka, alat-alat peraga ritual, dan aksesori lainnya,” kata Masrina.

Saat ini, kata dia lagi, pembangunannya sudah rampung seratus persen. Tinggal menata dan membenahi hal-hal kecil, agar pada saat pelaksanaan `soft opening`, tidak ada yang sampai tertinggal.

“TB Silalahi mendirikan bangunan ini, bertujuan untuk melestarikan benda-benda kuno milik orang Batak, agar bisa disaksikan generasi muda berikutnya. Selain itu, museum memiliki `view` yang sangat menarik, karena berada di pinggiran danau Toba,” kata Masrina.(*)
(ANT-219/H-KWR/R009)

View the original article here

La Galigo Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

Makassar (ANTARA News) – Warisan budaya Bugis-Makasssar, I La Galigo, diusulkan untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia.

Ahli Budaya Sulawesi Selatan, Dr Mukhlis Paeni, di Makassar, Selasa, mengatakan, sastra I La Galigo memiliki banyak nilai budaya dan layak untuk mendapatkan penghargaan secara internasional.

Penghargaan sebagai warisan budaya dunia ini, kata dia, menunjukkan bahwa I La Galigo tidak hanya menjadi masyarakat Sulsel, melainkan juga masyarakat intenasional.

“Tidak ada yang bisa membantah bahwa I La Galigo merupakan warisan sejarah yang sangat besar, baik dalam konteks budaya, sejarah, sastra, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Menurut dia, pengusulan I La Galigo untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia menjadi sangat penting di era ekonomi kreatif dan juga industri budaya yang semakin berkembang.

Ia menambahkan, budaya harus juga bisa dikelola sebagai mata tambang yang bisa menambah khasanah kehidupan masyarakat.

“Apalagi, I La Galigo sendiri bisa dikatakan sebagai produk budaya yang bisa menjadi sarana pengembangan nilai serta karakter bangsa,” terangnya.

Proses pengusulan I La Galigo ini, kata dia, sudah mulai dilakukan sejak dua tahun lalu, dan diajukan melalui dialog ilmiah dengan Memory of the Word (MOW) Unesco.

Hasil dialog ilmiah tersebut diajukan ke tingkat nasional dan kemudian diajukan lagi hingga ke tingkat internasional.

“I La Galigo sendiri merupakan salah satu warisan budaya yang diusukan bersama dengan dua warisan budaya yaitu, Babad Diponegoro dari Pulau Jawa dan juga Mak Yong dari Kepulauan Riau,” tandasnya.

Menurut dia, perlu pengawalan serius untuk bisa mewujudkan I La Galigo menjadi salah satu warisan budaya dunia, mengingat sangat banyak warisan budaya dari negara lain yang juga diusulkan.

(ANT-103/S026)

View the original article here

Seniman Sepakat Selesaikan Persoalan Bangsa Melalui Budaya

Seniman Sepakat Selesaikan Persoalan Bangsa Melalui Budaya
Ilustrasi Kebudayaan. (ANTARA/Saptono)Surabaya (ANTARA News) – Para seniman di Jawa Timur bersepakat menyelesaikan berbagai persoalan bangsa melalui pendekatan budaya.

Kesepakatan tersebut tertuang dalam hasil Kongres Kebudayaan 2010 dengan tema “Temu Pikir Kebudayaan dari Jawa Timur untuk Indonesia” pada 10-13 Desember 2010.

Ketua Pelaksana Kongres Kebudayaan 2010, Riadi Ngasiran, di Surabaya,mengatakan, kongres tersebut terbagi dalam beberapa subtema pokok yang diuraikan oleh para pakar yang berkompeten.

Empat di antara subpokok bahasan yang amat penting adalah tentang kearifan lokal dengan pendekatan spasial, warisan budaya dengan pendekatan sektoral, lintas generasi dengan pendekatan temporal, dan politik bhinneka tunggal ika sebagai politik identitas dan jati diri bangsa.

Empat subtema tersebut, menghasilkan kesimpulan yang dihasilkan oleh peserta kongres budaya 2010. “Kesimpulan itu bukan merupakan resolusi atau semacam rekomendasi, tetapi masih berupa draf atau rancangan,” kata Riadi.

Menurut dia, draf itu perlu terus dielaborasi oleh berbagai pihak yang berkomitmen terhadap masa depan kebudayaan di Indonesia.

Ia berharap, rekomendasi itu dapat dipakai bukan hanya oleh oleh kalangan seniman, melainkan seluruh masyarakat Indonesia tanpa mengenal suku bangsa, bahasa, dan asal daerah.

Sementara itu, Ayu Sutarto selaku panitia pengarah, memaparkan poin-poin kesepahaman yang telah dihasilkan dalam sidang komisi.

Guru besar Universitas Negeri Jember itu menyebutkan beberapa poin itu, di antaranya pentingnya menghormati dan menghargai kebudayaan lokal sebagai pembangunan karakter bangsa.

“Kontribusi kebudayaan lokal sangatlah besar bagi pembentukan karakter bangsa,” katanya.

Dalam hal kebhinekaan, Ayu menegaskan, pentingnya memberi kesempatan kepada individu warga negara Indonesia untuk mengembangkan dan memperbaiki bangsa ini.

“Untuk mengurai problem bangsa yang kusut ini perlu melalui pendekatan kebudayaan dan tidak semata-mata politik,” katanya.

Sementara itu, Endo Suanda dari Lembaga Pendidikan Seni Nusantara, menambahkan, poin lain yang telah menjadi kesepahaman bersama adalah tentang lintas generasi kebudayaan lokal.

Menurut Direktur Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) itu, lokalitas kebudayaan warisan budaya perlu ditransformasikan dalam generasi berikutnya.

Kongres tersebut hadir sekitar 100 seniman dan budayawan dari Jatim dengan pembicara antara lain Taufik Rahzen, Radhar Panca Dahana, Nur Syam, Rachmah Ida, Endo Suanda, Melani Budianta, dan Ayu Sutarto.(*)
(T.M038Z002/R009)

View the original article here

Penobatan Raja Muda Banjar Angkat Budaya Daerah

Martapura (ANTARA News) – Penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar atas Khairul Saleh dinilai sebagai salah satu cara mengangkat budaya daerah, agar kembali lebih dikenal masyarakat luas.

Hal itu dikatakan budayawan Kalimantan Selatan, Adjim Arijadi usai mengikuti prosesi upacara “Badudus” atau mandi-mandi yang dilakukan Khairul Saleh di halaman Mahligai Sultan Adam Martapura, Jumat.

“Penobatan raja muda merupakan salah satu cara mengangkat budaya daerah yang telah lama tenggelam sehingga kembali bisa dikenal masyarakat luas,” ujarnya.

Menurut dia, melalui penobatan raja muda itu diharapkan mampu mengangkat budaya dan adat istiadat daerah yang terlupakan di antaranya upacara “Badudus” yang bertujuan membersihkan diri dan pikiran dari hal negatif.

“Di antara masyarakat suku Banjar sendiri mungkin banyak yang belum mengetahui apa itu “Badudus” sehingga upacara yang menjadi bagian penobatan raja muda itu tepat sebagai upaya mengangkat budaya daerah,” ujarnya.

Datuk Cendekia Hikmatullah Kesultanan Serdang, Mahyudin Al Mudra, mengatakan, penobatan raja muda berperan membangkitkan kembali citra dan jadi diri daerah yang memiliki kekhasan budaya dan adat istiadat.

“Penobatan raja muda yang diisi dengan berbagai kegiatan budaya ini juga mampu membangun kebanggaan masyarakat Banjar maupun Kalsel umumnya, karena memiliki budaya dan adat istiadat sekaligus identitas diri,” ujarnya.

Dikatakannya, beragam kegiatan budaya yang mengiringi prosesi penobatan raja muda itu juga diharapkan mampu menjadi dasar pelestarian dan pengembangan budaya daerah sehingga sudah sepatutnya didukung semua pihak.

“Penobatan raja muda ini bukan sebagai bentuk feodalisme baru tetapi sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan budaya daerah yang sudah lama ditinggalkan,” ujar tokoh masyarakat Banjar, Gusti Perbatasari Rahmatillah.

Upacara “Badudus” menandai penobatan Khairul Saleh yang juga menjabat Bupati Banjar sebagai Raja Muda dan mendapat gelar Pangeran yang diberikan `juriat` dan `tetuha` adat Kesultanan Banjar.

Usai “Badudus” dilanjutkan upacara tapung tawar yang dilakukan para `tetuha` adat dengan cara memercikkan air yang telah diberi doa-doa untuk keselamatan calon raja muda tersebut.

Rencananya, penobatan yang berlangsung dalam upacara adat Banjar dilaksanakan Minggu (12/12) di Mahligai Sultan Adam Martapura dihadiri sejumlah raja dan pangeran dari kerajaan di tanah air.  (ANT-128/K004)

View the original article here

Pelajar Australia Belajar Budaya Indonesia

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) dalam beberapa tahun terakhir ini telah menerima kedatangan sejumlah siswa setingkat SMP dan SMA dari Australia untuk belajar tentang bahasa dan kebudayaan Indonesia termasuk mempelajari alat musik tradisional serta tariannya.

“Sekitar 22 orang pelajar dari Victoria, Australia ikuti program rumah singgah (homestay). Mereka dititipkan ke sejumlah rumah orang tua murid,” kata Elslee Sheyoputri, Kepala Sekolah SIK di sela-sela kedatangan rombongan Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.

Para pelajar asal Australia itu, tinggal selama dua minggu dengan orang tua asuhnya untuk mempelajari bahasa dan budaya masyarakat Indonesia.

“Mereka itu (pelajar) diajari menari, main gamelan, main angklung bahkan membatik. Para pelajar sangat antusias mengikuti pelajaran tersebut,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pelajar SIK juga pernah menjalani program seperti itu di Australia. “Sekitar tahun 2008, kami diundang untuk ke Australia. Rencananya tahun depan akan ada program seperti itu lagi,” harapnya.

Sementara itu, pihak Australia juga telah mengajukan surat untuk kembali mengikuti program tersebut pada tahun 2011 tempatnya pada tanggal 24 September hingga 9 Oktober 2011.

Menurut dia, program ini cukup bagus bagi Indonesia guna menunjukkan ke mata dunia tentang kehidupan yang saling gotong royong masih tertanam di masyarakat kita sebagai bangsa yang berbudaya.

Sementara itu, SIK juga telah menunjukkan prestasinya dengan tampil sebagai juara umum dalam ajang ?Apresiasi dan Kreasi Sekolah Indonesia Luar Negeri Tahun 2010?, yang berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu.

Kompetisi ini diikuti 300 siswa-siswi sekolah Indonesia di 12 negara yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Jepang, Mesir, Arab Saudi, Syria, Belanda, Rusia, dan Serbia.

SIK tampil cemerlang sebagai juara pertama dan kedua dalam lima kategori bidang lomba, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Pada perlombaan matematika tingkat SD, Anwar Majid Madani, siswa kelas 6 SD, berhasil meraih juara pertama.

Muhammad David, siswa kelas 6 SD, berhasil tampil memukau seluruh juri dan peserta ajang apresiasi dan kreasi Sekolah Indonesia Luar Negeri, dengan puisinya yang berjudul ?Biasa Saja?, serta meraih juara pertama.

Juara pertama juga berhasil diraih oleh Adani Ardhanareswari dan Ratu Atikah Balqis dalam perlombaan tari berpasangan tingkat SMP.

Tidak kalah memukau, siswa kelas 1 SMA, Muhamad Ihsan Adfinda, berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan Fisika.

“Sangat membanggakan karena dia berhasil menyelesaikan soal-soal yang harusnya dikerjakan oleh siswa kelas 3 SMA dan bahkan tampil sebagai juara,” kata Elslee Sheyoputri.

Juara kedua berhasil diraih oleh Zarra Masyitah dalam perlombaan IPA tingkat SMP dan perlombaan tari berpasangan tingkat SMA, Ditya Hasna Karima dan Yuda Fachrul Rozi.

Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Mulya Wirana beberapa waktu lalu mengatakan bahwa prestasi SIK ini sangat membanggakan karena dalam kurun waktu empat tahun sejak diselenggarakannya ajang apresiasi dan kreasi tersebut, SIK telah berhasil tampil sebagai juara.

“Keberhasilan yang diraih siswa-siswi SIK bukan merupakan suatu kebetulan namun hasil kerja keras di balik semuanya itu. Semoga di tahun mendatang, SIK bisa menjadi juara lagi dan mengharumkan nama bangsa dalam ajang internasional.” ungkapnya.(*)
(T.N004/Z002/R009)

View the original article here