“Ritual Bhakti Alam” Terapi Mental Pascaerupsi Merapi

Magelang (ANTARA News) – Prosesi bertajuk “Ritual Bhakti Alam 2010” adalah upaya kultural warga Dusun Wonogiri Kidul, Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk terapi mental dan spiritual mereka pascaerupsi Gunung Merapi.

“Secara khusus prosesi ini sebagai langkah kultural warga untuk terapi mental dan spiritual setelah mereka menghadapi letusan Gunung Merapi 2010,” kata sesepuh adat Padepokan Budi Aji, Ki Rekso Jiwo, di Magelang, Rabu.

Prosesi itu antara lain ditandai dengan pengambilan air dari sumber mata air “Umbul Sewu” di bawah bukit Windusabrang, Kecamatan Sawangan sekitar lima kilometer barat puncak Merapi.

Warga setempat yang berjumlah sekitar 70 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa tinggal di tepian alur Kali Pabelan, sekitar 7,8 kilometer barat puncak Merapi.

Saat Merapi meletus intensif belum lama ini, sebagian besar warga setempat mengungsi ke berbagai tempat yang relatif aman. Kini mereka telah kembali ke dusunnya karena menganggap Merapi sudah aman dari bahaya letusan.

Prosesi budaya yang umumnya diikuti para penghayat kepercayaan “Urip Sejati” di dusun setempat itu juga sebagai tradisi mereka merayakan tahun baru dalam kalender Jawa, Sura.

Mereka baik laki-laki maupun perempuan yang mengenakan pakaian adat Jawa itu berangkat dari dusunnya menuju mata air tersebut dengan membawa aneka sesaji dan tetabuhan.

Air yang diletakkan di beberapa tempayan itu kemudian dibawa menuju padepokan di tengah perkampungan warga setempat.

Padepokan itu antara lain berhias anyaman janur kuning dan bendera Merah Putih di berbagai tempat dan tatanan patung punakawan di pintu masuk.

Dua gunungan berisi tatanan hasil bumi warga setempat diletakkan di tepi pendopo padepokan tersebut.

Tarian karya komunitas setempat berjudul “Puja-Puji” disuguhkan kepada para warga dan tamu undangan oleh sejumlah gadis di pendopo padepokan itu.

Ia mengatakan, letusan Merapi 2010 sebagai pelajaran dan pengalaman penting warga setempat.

“Merapi tidak hanya dipahami sebagai bencana, tetapi juga anugerah dari Sang Pencipta Alam. Masyarakat sudah seharusnya melestarikan alam untuk kepentingan anak cucu,” katanya.

Kepala Desa Kapuhan, Joko Winarno, menyatakan mengajak masyarakat untuk membangkitkan semangat menjalani kehidupan pascaletusan Merapi.

“Harus tabah dan sabar untuk menjalani lagi kehidupan setelah Merapi meletus. Jangan mengeluh karena kehidupan normal harus segera dimulai, banyak hikmah bisa kita petik bersama-sama atas letusan Merapi tahun ini,” katanya.

Ia menyatakan pentingnya warga semakin meningkatkan kesadaran atas pentingnya melestarikan alam.

Prosesi hingga Kamis (9/12) tersebut juga dimeriahkan antara lain dengan kirab sesaji, pentas wayang kulit, ketoprak, sendratari, dan sejumlah tarian tradisional antara lain kuda lumping, warokan, gangsir ngentir, dan topeng ireng.(*)
(U.M029/A035/R009)

View the original article here

Advertisements

Tim SAR Temukan Satu Jenazah Korban Erupsi Merapi

Tim SAR Temukan Satu Jenazah Korban Erupsi MerapiSleman (ANTARA News) – Tim pencarian dan penyelamatan (SAR), Tentara Nasional Indonesia (TNI), polisi, dan relawan pada Minggu, menemukan satu jenazah korban erupsi Gunung Merapi di Dusun Kalitengah Lor , Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tim SAR DIY membenarkan telah menemukan satu jenazah yang diduga berjenis kelamin perempuan di dekat jalan dusun itu.

Kondisi jenazah ditemukan mengenaskan karena sudah tidak utuh lagi, sebagian tubuhnya sudah hancur akibat lama tertimbun material vulanik Gunung Merapi. Rumah-rumah di dusun itu sudah roboh terkena letusan teraktif di Indonesia itu.

Jenazah langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) Sardjito Yogyakarta untuk diautopsi. Penemuan jenazah ini berdasarkan hasil laporan dari kalangan masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya sejak letusan Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari.

Dengan ditemukan satu jenazah itu, maka keluarga korban bisa tenang dan tabah karena sudah mengetahui nasib keluarganya . Selama ini, tim melakukan proses evakuasi berdasarkan laporan dari kalangan masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya.

Jumlah korban meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari kemungkinan masih akan terus bertambah karena tim gabungan yang terdiri atas anggota pencarian dan penyelamatan (SAR), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan relawan masih terus melakukan proses evakuasi, terutama di dusun sekitar Kali Gendol.

Tim SAR DIY, TNI, dan relawan hingga kini masih menemukan jenazah di dusun-dusun sekitar Kali Gendol yang terletak tidak jauh dari puncak gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
(ANT/P003)

View the original article here

Radio Tanggap Merapi Diresmikan

Radio Tanggap Merapi DiresmikanYogyakarta (ANTARA News) – Radio Tanggap Merapi hasil kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) didukung sejumlah pihak diluncurkan secara resmi, Minggu.

Studio Radio Tanggap Merapi tersebut menempati salah satu ruang khusus di Media Center BNPB di Yogyakarta.

Kesepakatan bersama terkait penyiaran Radio Tanggap Merapi yang beroperasi di frekuensi 100,2 MHz tersebut ditandatangani oleh Ketua BNPB, Syamsul Maarif, dan Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI, Niken Widiastuti, di Yogyakarta, Minggu.

“Radio siaran khusus ini memiliki tugas untuk memberikan informasi yang akurat, `trauma healing` dan juga memberikan rekreasi kepada pengungsi,” kata Niken Widiastuti saat meresmikan Radio Tanggap Merapi di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, melalui peluncuran radio siaran khusus tersebut, masyarakat akan memperolah informasi yang benar dan tidak menyesatkan.

Ia juga berharap, siaran radio tersebut dapat membantu penyembuhan trauma korban letusan Gunung Merapi melalui siaran dengan psikolog, ustad atau akademisi, masyarakat yang menjadi korban akan lebih tenang dan memiliki harapan besar akan penghidupan yang lebih baik.

Penyiaran radio siaran khusus terkait bencana alam tersebut, lanjut Niken, juga pernah dilakukan sebelumnya, yaitu pendirian Studio Pelipur Lara setelah gempa bumi Yogyakarta 2006 dan Mobile Emergency Radio Station (MERS) selama dua bulan setelah gempa Padang.

“Namun, saat itu kami belum bekerja sama dengan pihak-pihak lain,” katanya yang berharap akan ada sinergi secara langsung antara beberapa pihak saat bencana alam kembali terjadi.

Sementara itu, Syamsul Maarif mengatakan, radio siaran khusus tersebut akan sangat membantu tugas BNPB khususnya dalam bidang komunikasi dengan masyarakat yang menjadi pengungsi.

“Saya yakin, tanggap darurat akan sukses dengan bantuan semua pihak,” katanya.

Ketua KPID DIY, Rahmat Arifin, mengatakan bahwa radio tanggap bencana tersebut bertujuan untuk memberikan informasi yang cepat dan akurat seperti yang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Penyiaran radio ini memang belum sempurna, tetapi kami berharap tetap bisa memberikan informasi yang akurat,” katanya.

Ia juga berharap, keberadaan radio tanggap bencana tersebut tidak hanya berhenti di Yogyakarta saja tetapi juga dapat muncul di daerah lain apabila terjadi bencana di kemudian hari.

“Kami berharap, surat kesepakatan bersama yang ditandatangani oleh BNPB dan RRI ini memiliki skala nasional, sehingga radio serupa bisa ada saat ada bencana lain. Meskipun, semua orang tentu tidak ada yang berharap akan datangnya bencana,” lanjutnya.

Radio Tanggap Merapi tersebut akan memperoleh izin mengudara selama enam bulan atau selama masa tanggap darurat.
(U.E013/I007/P003)

View the original article here

Burung-burung Asli Merapi Terancam Punah

View the original article here

Obama Akan Bantu Korban Merapi

View the original article here

DPR Setujui Penggantian Hewan Ternak Korban Merapi

Jakarta (ANTARA News) – Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Kadir Karding mengatakan, DPR RI sudah menyetujui angggaran sebesar Rp100 miliar untuk penggantian hewan ternak milik masyarakat yang menjadi korban letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“DPR RI sudah menyetujui anggaran untuk penggantian ternak milik korban letusan Gunung Merapi. Anggaran itu sudah bisa dicairkan,” kata Abdul Kadir Karding, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.

Dengan telah bisa dicairkannya anggaran untuk penggantian hewan ternak milik masyarakat yang menjadi korban letusan Gunung Merapi, kata dia, maka hendaknya pemerintah daerah segera mendata hewan ternak milik masyarakat yang mati karena letusan Gunung Merapi.

Menurut dia, anggaran sudah tersebut sudah bisa dicairkan dan akan dialokasikan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa ini menambahkan, anggaran ini harus digunakan dengan mengedepankan rasa keadilan kepada para pengungsi.

“Anggaran tersebut harus dibagikan secara adil dan merata ke seluruh pengungsi yang hewan ternaknya menjadi korban letusan Gunung Merapi,” katanya.

Sementara itu, Badan Anggaran DPR telah menerima surat dari Kementerian Keuangan yang meminta persetujuan untuk menggunakan anggaran sebesar Rp100 miliar untuk penggantian hewan ternak yang menjadi korban letusan Gunung Merapi.

Dalam surat yang ditandatangani Wakil Menteri Keuangan tersebut antara lain menyebutkan, penggantian hewan ternak milik masyarakat yang menjadi korban letusan Gunung Merapi besarnya bervariasi mulai dari anak sapi dengan harga Rp5 juta hingga sapi perah Rp10 juta.

Masyarakat di Kabupaten Sleman yang menjadi pengungsi akibat letusan Gunung Merapi sebagian di antaranya berprosesi sebagai peternak sapi dan kambing.

(R024/S026)

View the original article here

BNPB: Pengungsi Merapi Capai 279.702 Jiwa

Jakarta (ANTARA News) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa jumlah total warga di sekitar lereng Gunung Merapi yang mengungsi hingga saat ini terdata 279.702 jiwa.

Menurut Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin, jumlah korban meninggal dunia hingga saat ini mencapai 141 jiwa dan korban luka 453 orang.

BNPB memperkirakan jumlah pengungsi tersebut akan terus mengalami kenaikan mengingat hingga saat ini satuan dari TNI, Polri dan relawan masih melakukan penyisiran di rumah-rumah warga dan menjemput warga yang masih bertahan.

“Warga yang dijemput akan dibawa ke pengungsian terdekat yang berjarak sekitar 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi,” katanya.

Dia juga mengakui masih banyak warga yang menolak dievakuasi dan memilih bertahan di rumahnya.

Namun demi kebaikan bersama pihaknya telah memutuskan untuk melakukan penjemputan paksa bagi masyarakat yang tinggal di zona berbahaya namun menolak untuk evakuasi.

“Penjemputan paksa ini dimaksudkan untuk kebaikan bersama, karena pemerintah telah menetapkan jarak aman 20 kilometer, sehingga masyarakat yang masih tinggal di bawah jarak aman akan dijemput paksa” katanya.

Menurutnya, meskipun jumlah pengungsi diperkirakan terus mengalami kenaikan namun tidak ada masalah berarti terkait daya tampung penampungan.

Selain itu, mengenai logistik juga menurutnya tidak ada masalah, hanya saja pemerintah terus mendorong masyarakat untuk ikut membantu meringankan beban pera pengungsi dengan ikut serta menyalurkan bantuan logistik.

“Pemerintah terus mendorong masyarakat yang mau membantu, karena ini semua tidak lagi hanya menjadi tugas pemerintah melainkan tugas bersama,” katanya.

(W004/A041/S026)

View the original article here