Tetangga di Menteng Dalam Kangen Obama

View the original article here

Advertisements

Obama Terkenang “Becak” dan “Bemo”

View the original article here

Ani Yudhoyono Perkenalkan Budaya Indonesia Pada Michelle Obama

View the original article here

Obama Salami Megawati di Istana Negara

View the original article here

Obama Akan Bantu Korban Merapi

View the original article here

Anggota DPR: Sambut Obama dengan Sikap Berdaulat

Anggota DPR: Sambut Obama dengan Sikap BerdaulatJakarta (ANTARA News) – Anggota Komisi I DPR RI bidang luar negeri dari Fraksi Partai Demokrat, Paula Sinjal, menegaskan bahwa sebagai sesama negara besar, Indonesia harus menunjukkan sikap berdaulat saat menerima Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

“Tengok saja sikap publik atas kedatangan orang nomor satu negeri adidaya itu ke Indonesia saat ini yang terkesan ditanggapi dengan biasa saja. Jadi, tak perlu reaksi berlebihan,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut dia, sikap biasa-biasa saja dari warga masyarakat itu, karena pengaruh banyak faktor.

“Memang karena tak perlu sesuatu respons yang luar biasa, juga bisa saja karena kondisi masyarakat Indonesia yang masih berkabung dengan munculnya serentetan bencana alam yang melanda negeri ini,” ujar Anggota Komis Hubungan Luar Negeri, Pertahanan Keamanan, Infokom dan BIN tersebut.

Kendati begitu, anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Sulawesi Utara ini juga berharap, agar kunjungan Barack Obama harus memiliki implikasi positif bagi kepentingan sangat strategis kita.

“Khususnya kepentingan nasional baik di bidang ekonomi, politik, maupun pertahanan keamanan, juga kepentingan regional Asia Tenggara pada umumnya, karena Indonesia kini mendapat giliran Ketua ASEAN” tegasnya.

Satu hal yang patut terus ditegakkan oleh para diplomat kita, menurutnya, agar kedatangan Presiden Negara Adidaya ini bukan merupakan upaya untuk melanggengkan dominasi dan hegemoninya terhadap Indonesia.

“Baik secara politik maupun ekonomi,” tegasnya.

Isu Papua

Paula Sinjal juga mengkritisi isu penyelesaian persoalan aktual yang terjadi di Tanah Papua (video berisi gambar-gambar penyiksaan pasukan TNI atas warga sipil) serta masalah HAM lainnya.

Sebab, menurutnya, agaknya ini menjadi isu penting yang akan dibahas atau diajukan oleh Presiden Barack Obama.

“Sesungguhnya, masalah tersebut adalah persoalan yang masih bisa diselesaikan oleh negeri ini dan pertanyaannya kenapa Presiden Obama sangat tertarik untuk membicarakan isu Papua,” tanyanya.

Bahkan, demikian Paula Sinjal, tidak hanya kali ini saja Amerika berkeinginan untuk ikut campur dalam menangani persoalan Papua.

“Sebelumnya Kongres Amerika pernah melontarkan kritikan yang sangat pedas terhadap penanganan Papua. Padahal wilayah itu sejak tahu 1963 adalah sah masuk dalam wilayah NKRI, sehingga untuk segala persoalan yang muncul di sana adalah kewenangan Indonesia untuk mengatur dan mengelolahnya,” katanya.

Artinya, demikian Paula Sinjal, kita harus semakin tegas meniadakan intervensi asing terhadap segala urusan rumah tangga Indonesia.

(M036*M041/A041/S026)

View the original article here

Obama Imbau India Berunding Dengan Pakistan

Mumbai (ANTARA News/Reuters) – Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Ahad, mengimbau India mendukung usaha-usaha perdamaian dengan Pakistan, satu negara yang ia katakan tidak cukup bertindak untuk menangani kelompok garis keras di perbatasannya.

Obama menghadapi satu ketegangan diplomatik dalam mengembangkan hubungan dengan India yang ekonominya tumbuh pesat di samping geoplotiknya penting sementara pada saat yang sama membantu Pakistan dengan miliaran dolar dan meningkatkan perdamaian luas di Afghanistan .

“Harapan saya adalah pembangunan kepercayaan antara kedua negara, agar dialog dimulai, barangkali mengenai masalah-msalah yang kurang kontroversial, meningkat pada masalah-masalah yang lebih kontroversial,” kata Obama dalam satu pertemuan dengan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Mumbai.

“Banyak warga Pakistan yang dibunuh para teroris di wilayah Pakistan ketimbang mungkin di tempat-tempat lain,” kata Obama.

India menuduh Pakistan membantu para gerilyawan dan mengatakan unsur-unsur dalam negara Pakistan berada di belakang serangan di Mumbai tahun 2008, ketika pria-pria bersenjata yang berpangkalan di Pakistan menewaskan 166 orang dalam aksi 60 jam di kota bisnis India itu.

Serangan itu meningkatkan ketegangan antara dua negara yang bermusuhan itu, yang telah terlibat tiga kali perang sejak merdeka dari Inggris tahun 1947. India segera menghentikan perundingan perdamaian dengan Pakistan, walaupun banyak pertemuan tingkat pejabat tinggi tidak berhasil tahun lalu.

Walaupun kunjungan Obama terutama menyangkut tentang peingkatan perdagangan dengan India, masalaah stabilitas regional di Asia Selatan itu mendominasi satu pertemuan Ahad yang Obama selengarakan dengan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi Mumbai.

Pada Sabtu, Obama mengumumkan bahwa AS akan melonggarkan pengawaan ekspor menyangkut teknologi peka, satu tuntutan India yang akan membantu mempererat hubungan AS dengan kekuatan global yang baru muncul dan ekonominya.

Gedung Putih juga mengumumkan Obama akan mendukung keanggotaan India dalam empat organisasi non proliferasi global.

Obama menurut rencana Ahad petang terbang ke New Delhi untuk mengunjungi makam era Mughal dan menghadiri jamuan makan malam dengan Perdana Menteri Mohan Singh.

Obama juga akan mengunjungi Indonesia, Korea Selatan dan Jepang dalam lawatannya ke Asia dimana Washington berusaha mencegah negara-negara secara sepihak mendevaluasi mata uang untuk melindungi ekspor mereka, satu tema penting dalam pertemuan para kepala negara Kelompok 20 (G-20) di Seoul pekan depan.(*)

(Uu.H-RN/R009)

View the original article here