Seniman Kontemporer Indonesia Curi Perhatian Masyarakat Jerman

London (ANTARA News) – Karya seni instalasi seniman kontemporer Indonesia berhasil mencuri perhatian berbagai kalangan masyarakat Jerman di Berlin termasuk media massa yang digelar di Kruezberg, Berlin selama tiga bulan hingga 13 Februari mendatang.

Kuntsraum Kreuzberg yang berusia lebih dari 200 tahun disesaki pengunjung, ujar Fungsi Pensosbud KBRI Berlin, Purno Widodo dalam keterangannya kepada Antara London, Rabu.

Purno Widodo mengatakan Setu Legi dan Yudi Noor merupakan dua dari 11 seniman Indonesia menampilkan karyanya pada proyek eksibisi bertajuk “Indonesian Contemporary Art” atau ID-Project yang merupakan kegiatan eksibisi seni kontemporer Indonesia di Kuntsraum Kreuzberg, Berlin.

ID-Project dibuka District Councilor Bidang Pendidikan dan Budaya Kota Berlin Dr. Jan Sto dan Kepala Kanselerai/Minister Counselor Politik KBRI Berlin Diah Wulandari Rubianto.

Seniman Setu Legi dengan karyanya yang berjudul  “Tanah Tumpah Darah” menyoal keprihatinannya dengan makin tergerusnya hutan Indonesia yang pada gilirannya mengikis struktur sosial dan populasi daerah disekitar hutan tersebut.

“Dahan ranting tanpa batang, Hilang akar penopang kehidupan, Tak sadar badan telah dihanyutkan, Ke hilir untuk dikapalkan,” demikian potongan goresan syair yang ditulis seniman Indonesia Setu Legi.

Syair ini dilengkapi ilustrasi kumpulan patung kepala yang semakin lama semakin terpotong dan tenggelam di dalam lintasan yang membentuk peta Papua dengan tambahan berbagai ilustrasi pepohonan, lahan gundul, balok-balok kayu yang siap dikapalkan, serta terjangan derasnya air.

Karya seni instalasi ini hanyalah satu dari berbagai karya yang ditampilkan pada proyek pertukaran budaya yang bertajuk ID-Project yang digelar di Kruezberg,

Sementara Yudi Noor memvisualisasikan tema identitas dengan menampilkan akar pohon sebagai titik tolaknya.
Berbagai lampu neon yang diletakkan disekeliling akar tersebut berbicara sebagai gerak tidak konstan dan juga tidak seragam yang berkolerasi dengan pertumbuhan akar pohon.

Yudi Noor menggunakan pohon kopi untuk memvisualisasikan jati diri Indonesia sedangkan lampu neon digunakan untuk melambangkan proses Indonesia dalam membangun identitas.

Dikatakannya dua komunitas budaya asal Jakarta yaitu yaitu Forum Lenteng dan Mes 56 juga turut berpartisipasi dalam proyek eksibisi tersebut.

Selain karya seni instalasi dari seniman Indonesia, itu juga ditampilkan berbagai karya fotografi, video showing and streaming dan berbagai film Indonesia.

Film Indonesia yang ditampilkan di tempat terpisah diantaranya film Berbagi Suami, Pasir Berbisik, dan Eliana, Eliana.Selain pemutaran film, dilakukan juga workshop, diskusi panel dan symposium dengan para sineas Indonesia.

Para seniman lokal dan juga kalangan akademisi serta Indonesianists di Jerman tercenung mengapresiasikan berbagai karya seniman Indonesia yang sarat dengan pesan tersebut.

Secara khusus Dubes RI di Jerman Eddy Pratomo menyampaikan penghargaan terhadap seniman Indonesia yang berpartisipasi dalam ID-Project karena turut menjalankan misi diplomasi budaya Indonesia di Jerman.

Tema “ID” yang dapat diartikan sebagai Indonesia, Identitas atau apabila dibaca terpisah akan berarti “ide” gagasan, ujarnya.

Tema tersebut diinterpretasikan oleh seniman indonesia dalam karya-karya yang imajinatif dalam kemasan yang sederhana tapi sarat makna.

Proyek yang sebagian didanai Intitut fur Auslandsbeziehungen (IFA) dan program beasiswa budaya di Berlin yaitu Hauptstadtkulturfonds bertujuan mempromosikan budaya kontemporer Indonesia untuk memperkuat visibilitas budaya Indonesia di kalangan masyarakat Jerman.

KBRI Berlin sebagai salah satu pihak penyelenggara sangat bangga melihat animo tinggi masyarakat Jerman terhadap seni budaya kontemporer Indonesia.

Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah pengunjung yang menyesaki ruang eksibisi serta keingintahuan mereka terhadap berbagai karya seni yang ditampilkan.

Acara ini juga diliput oleh berbagai media elektronik dan media cetak Jerman, hal yang mana merupakan promosi yang baik untuk meningkatkan citra Indonesia di Jerman. (ZG/K004)

View the original article here

Advertisements

Ariel Masuk Daftar 50 Penyanyi Terbaik Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Nazriel Irham atau yang dikenal sebagai Ariel Peterpan masuk dalam daftar 50 penyanyi terbaik Indonesia versi  Majalah musik Rolling Stones Indonesia.
“Yang kita masukkan adalah penyanyi tahun 70-80′ an dan yang termuda adalah Ariel,” kata Adib Hidayat managing Director Majalah Rolling Stones Indonesia dalam jumpa pers di Rolling Stones Cafe kawasan Ampera, Jakarta.

Adib mengatakan bahwa kriteria pemilihan 50 penyanyi terbaik  adalah mereka yang memberi inspirasi bagi generasi berikutnya dan memiliki karakter vokal, selain  artis itu sudah banyak “follower-nya”.

“Mengenai Ariel kami tak memandang apa yang sedang menimpanya. Kami menilai suara dan karakternya,” kata Adib.

Anggun C Sasmi dan Daniel Sahuleka tak masuk kategori tersebut karena mereka bukan warga negara Indonesia.

“Tim penyeleksi terdiri dari voters dan tim kategorisasi,” tuturnya.  Prosesnya, lanjut Adib,  para penyanyi, misalnya  Anji Drive, diminta untuk menyebutkan 10 nama penyanyi yang paling diidolakan.

Dari jawaban itu pihaknya membuat tabulasi data hingga hasilnya muncul nama-nama tersebut.

Dalam acara itu digelar juga peluncuran cafe Rolling Stones Indonesia yang menurut operational director Hendy Suryadi,  cafe tersebut merupakan yang kedua di dunia setelah Jepang.

“Kami cukup bangga Indonesia bisa mendapat lisensi bisnis kafe ini atas ijin dari majalah Rolling Stones Amerika,” ujarnya.  
(yud/A038/BRT)

View the original article here

Pelajar Australia Belajar Budaya Indonesia

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) dalam beberapa tahun terakhir ini telah menerima kedatangan sejumlah siswa setingkat SMP dan SMA dari Australia untuk belajar tentang bahasa dan kebudayaan Indonesia termasuk mempelajari alat musik tradisional serta tariannya.

“Sekitar 22 orang pelajar dari Victoria, Australia ikuti program rumah singgah (homestay). Mereka dititipkan ke sejumlah rumah orang tua murid,” kata Elslee Sheyoputri, Kepala Sekolah SIK di sela-sela kedatangan rombongan Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.

Para pelajar asal Australia itu, tinggal selama dua minggu dengan orang tua asuhnya untuk mempelajari bahasa dan budaya masyarakat Indonesia.

“Mereka itu (pelajar) diajari menari, main gamelan, main angklung bahkan membatik. Para pelajar sangat antusias mengikuti pelajaran tersebut,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pelajar SIK juga pernah menjalani program seperti itu di Australia. “Sekitar tahun 2008, kami diundang untuk ke Australia. Rencananya tahun depan akan ada program seperti itu lagi,” harapnya.

Sementara itu, pihak Australia juga telah mengajukan surat untuk kembali mengikuti program tersebut pada tahun 2011 tempatnya pada tanggal 24 September hingga 9 Oktober 2011.

Menurut dia, program ini cukup bagus bagi Indonesia guna menunjukkan ke mata dunia tentang kehidupan yang saling gotong royong masih tertanam di masyarakat kita sebagai bangsa yang berbudaya.

Sementara itu, SIK juga telah menunjukkan prestasinya dengan tampil sebagai juara umum dalam ajang ?Apresiasi dan Kreasi Sekolah Indonesia Luar Negeri Tahun 2010?, yang berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu.

Kompetisi ini diikuti 300 siswa-siswi sekolah Indonesia di 12 negara yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Jepang, Mesir, Arab Saudi, Syria, Belanda, Rusia, dan Serbia.

SIK tampil cemerlang sebagai juara pertama dan kedua dalam lima kategori bidang lomba, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Pada perlombaan matematika tingkat SD, Anwar Majid Madani, siswa kelas 6 SD, berhasil meraih juara pertama.

Muhammad David, siswa kelas 6 SD, berhasil tampil memukau seluruh juri dan peserta ajang apresiasi dan kreasi Sekolah Indonesia Luar Negeri, dengan puisinya yang berjudul ?Biasa Saja?, serta meraih juara pertama.

Juara pertama juga berhasil diraih oleh Adani Ardhanareswari dan Ratu Atikah Balqis dalam perlombaan tari berpasangan tingkat SMP.

Tidak kalah memukau, siswa kelas 1 SMA, Muhamad Ihsan Adfinda, berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan Fisika.

“Sangat membanggakan karena dia berhasil menyelesaikan soal-soal yang harusnya dikerjakan oleh siswa kelas 3 SMA dan bahkan tampil sebagai juara,” kata Elslee Sheyoputri.

Juara kedua berhasil diraih oleh Zarra Masyitah dalam perlombaan IPA tingkat SMP dan perlombaan tari berpasangan tingkat SMA, Ditya Hasna Karima dan Yuda Fachrul Rozi.

Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Mulya Wirana beberapa waktu lalu mengatakan bahwa prestasi SIK ini sangat membanggakan karena dalam kurun waktu empat tahun sejak diselenggarakannya ajang apresiasi dan kreasi tersebut, SIK telah berhasil tampil sebagai juara.

“Keberhasilan yang diraih siswa-siswi SIK bukan merupakan suatu kebetulan namun hasil kerja keras di balik semuanya itu. Semoga di tahun mendatang, SIK bisa menjadi juara lagi dan mengharumkan nama bangsa dalam ajang internasional.” ungkapnya.(*)
(T.N004/Z002/R009)

View the original article here

Tenda Bagi Jemaah Indonesia Masih Dikerjakan

View the original article here

Ani Yudhoyono Perkenalkan Budaya Indonesia Pada Michelle Obama

View the original article here

AS Nantikan Kepemimpinan Indonesia Untuk Demokratisasi Myanmar

View the original article here

Ringkasan : AS Ingin Jadi Mitra Dagang Nomor Satu Indonesia

View the original article here