Gunung Kidul Diruwat Para Dalang

Gunung Kidul (ANTARA News) – Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Cabang Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan menggelar pertunjukan wayang kulit sebagai tradisi “ruwat bumi” yang bertepatan dengan malam pergantian tahun dari 2010 ke 2011 di Wonosari, Gunung Kidul.

“Tujuannya untuk keselamatan seluruh warga kabupaten ini, termasuk agar terhindar dari segala bencana,” kata Ketua Cabang Gunung Kidul Heri Sadewo di Wonosari, Senin.

Ia mengatakan dua dalang akan tampil sekaligus dalam “ruwat bumi” tersebut, yaitu Sakiyo dan Agus Prabowo yang keduanya adalah kepala desa.

Sakiyo Kepala Desa Wareng Kecamatan Wonosari, sedangkan Agus Prabowo Kepala Desa Natah Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul.

“Kami sudah merencanakan pertunjukan wayang kulit ini sejak lama, dan mengurus semua perizinan, serta mengundang para pejabat Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul untuk menyaksikannya,” katanya.

Heri mengatakan pergelaran wayang kulit tersebut juga ntuk melestarikan kesenian tradisional.

“Wayang dalam alur ceritanya selain memberikan tontonan, juga memberikan tuntunan, sehingga kesenian ini perlu dilestarikan, jangan sampai punah,” katanya.(*)

ANT/M008/AR09

View the original article here

KPU Khawatirkan Gempa dan Letusan Gunung Kerinci

KPU Khawatirkan Gempa dan Letusan Gunung Kerinci
(ANTARA Grafis/Lukisatrio)Kerinci, Jambi (ANTARA News) – Komisi Pemilihan Umum Kota Sungai Penuh mengaku sangat risau dan mengkhawatirkan terjadinya bencana alam yang bisa membatalkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah setempat.

“Kerinci termasuk salah satu daerah yang berada dalam kawasan rawan bencana, khususnya bencana gempa bumi dan meletusnya Gunung Kerinci. Kami mencemaskan bencana serupa sampai dan menimpa di sini dan mengganggu pelaksanaan pilkada,” kata anggota KPU Sungai Penuh Mulfi di Kerinci, Minggu.

Ia mengatakan, sebagaimana diatur undang-undang pelaksanaan pemilu dan pilkada, pemilihan hanya dapat dibatalkan atau ditunda hanya oleh adanya bencana alam dan kondisi negara dalam keadaan perang.

Bencana meletusnya Gunung Merapi di Pulau Jawa serta gempa disertai tsunami di Mentawai, dikuatirkan juga akan berdampak pada bangkitnya potensi gempa dan letusan di Gunung Kerinci.

“Sebagai daerah gempa, Kerinci sudah berkali mengalami gempa tektonik. Pertama yang terparah adalah yang terjadi pada 2006 dan 2009 lalu. Pada saat itu sebagian besar wilayah ini mengalami kerusakan serius,” terangnya.

Sementara Gunung Kerinci tercatat sebagai salah satu gunung berapi aktif yang kini statusnya telah dinaikkan BMVKG pusat menjadi “waspada”, mengingat mulai meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tersebut beberapa pekan belakangan.

Di samping itu, informasi tentang ancaman akan terjadinya cuaca ekstrim yang juga disebut-sebut pihak Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jambi juga akan melanda Kerinci, menambah risau pihak KPUD dan masyarakat.

“Tentu kita berharap tidak ada bencana alam yang terjadi di Kerinci khususnya Sungai Penuh pada saat momentum Pilwako pertama kita sekarang ini. Sebab, penundaan apalagi pembatalan tentu akan menjadi masalah serius untuk penataan ulang,” tandasnya.(*)
(ANT-144/C/B013/R009)

View the original article here

Kegempaan Gunung Anak Krakatau Meningkat

Kegempaan Gunung Anak Krakatau MeningkatCinangka, Serang (ANTARA News) – Kegempaan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, pada Sabtu (6/11) mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya, namun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih menetapkan GAK pada level Waspada II.

“Pada Jumat (5/11) kegemapaan GAK hanya 615 kali, kemudian Sabtu (6/11) meningkat menjadi 623 kali,” kata Kepala Pos Pemantau GAK di Desa Pasuruan Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang, Minggu.

Menurut dia, kegempaan GAK masih fluktuatif, kadang hanya kisaran 600, tapi juga bisa mencapai lebih dari 720 kali per hari.

Meski kegempaan GAK hanya pada angka 623 kali, namun aktivitas yang dikeluarkan oleh gunung tersebut masih tetap membahayakan bagi warga yang berada pada radius dua kilometer.

“Kami masih mengimbau kepada warga setempat, atau siapapun untuk tidak mendekat,” katanya menambahkan.

Saat ini letusan GAK masih terdengar hingga ke pos pemantau yang berjarak 41 kilometer, bahkan sesekali letusan tersebut menggetarkan kaca kantor tersebut.

“Untuk kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh aktivitas GAK masih sama, debu yang dikeluarkan juga mencapai Anyer, karena pengaruh angin,” katanya.

Ia menjelaskan, secara rinci kegempaaan yang dikeluarkan oleh GAK di antaranya, vulkanik dalam (VA) 41 kali, vulkanik dangkal (VB) 235 kali, hembusan 184, letusan 63, dan tremor 100 kali.

“Pijaran lava masih keluar, dan akan terlihat sangat jelas pada malam hari,” katanya.(*)

(ANT-152/B/S031/R009)

View the original article here