Dua Raja Dunia Hiburan Impor Film Kelas Oscar

Dua Raja Dunia Hiburan Impor Film Kelas Oscar
Ilham Bintang.

Jakarta (ANTARA News) – Apa jadinya bila dua raja industri hiburan sinematografi nasional bersinergi? Inilah yang sekarang dilakukan Raja Sinetron, Raam Punjabi, dan Raja Media Infotainmen, Ilham Bintang, untuk bekerja sama mengimpor berbagai film kategori butik atau kelas Oscar bermutu tinggi produksi Hollywood, Amerika Serikat (AS).

“Tanda tangan kerja sama ini kami lakukan Selasa (14/12). Film-film ini akan dipertunjukan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia, di Group 21 maupun Blitz,” kata Ilham Bintang kepada ANTARA News di Jakarta, Kamis.

Ia mengemukakan, untuk mengisi peredaran sepanjang tahun 2011 akan diimpor 20 judul film sebagai hasil kerjasama perusahannya, PT Bintang Advis Multimedia, dengan PT Parkit Films milik Raam Pudjabi.

Ilham yakin para pemilik bioskop, apalagi Group 21 akan menyambut baik kerja sama tersebut. “Saya sudah berkawan baik dengan pemilik 21, jauh sebelum 21 sendiri didirikan,” sambung Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat itu.

Pemimpin Redaksi Tabloid Cek&Ricek (C&R) itu mengemukakan, film, televisi dan media pers adalah genre media massa yang diabdikan untuk kepentingan publik, sehingga film tidak boleh diperlakukan sebagai barang dagangan semata.

Dari 20 judul film yang diedarkan di Indonesia pada 2011 itu, ia mengemukakan, antara lain film “Way Back” yang berdasarkan kisah nyata tentang pelarian sekelompok tentara Rusia yang dijebloskan di penjara Gulag. Mereka berhasil meloloskan diri dan harus bertahan dari terpaan dinginnya salju dan gurun pasir. Mereka harus lari sepanjang 6.000 kilometer, sebelum benar-benar selamat dari kejaran Tentara Merah.

Collin Ferrel, salah seorang idola penggemar film dunia, bermain di film karya sutradara kelas Oscar, Peter Weir, yang juga menggarap film “Master & Commander”, “Truman Show”, “Dead Poet Society”, “The Year of Living Dangerously”.

Ilham menyatakan, ada juga film “Singularity” karya sutradara kelas Oscar, Roland Joffe, yang pernah menggarap “The Killing Fields”, “Scarlet Letter”, “The Mission”. Film aksi ini berkisah petualangan berlokasi pengambilan gambar di India dan Afrika Selatan.

Film tersebut berkisah tentang cinta dua masa, di tahun 1780an, tatkala seorang perwira Inggris jatuh hati pada perempuan lokal India. Ternyata, peristiwa itu kembali terulang dialami seorang arkeolog yang tengah melakukan riset tenggelamnya kapal yang pernah ditumpangi perwira Inggris tersebut.

Sejumlah film lain yang diimpor Raam dan Ilham adalah “Trust”, “Elephant White”, “Conan”, “Drive Angry”, dan “Son Of No One” yang dibintangi Al Pacino.

Ilham mengemukakan, dirinya maupun Raam meminta dukungan seluruh masyarakat pencinta film bermutu di Tanah Air, agar usaha kerja sama mereka menyajikan keberagaman tontonan berkualitas.

Menanggapi latar belakang kerja sama dari dua sosok yang selama ini dikenal sering berseteru ini, Ilham mengakui bahwa dalam 30 tahun karirnya sebagai wartawan sering mengritisi produk film dan sinematografi elektronik (sinetron) garapan Raam Punjabi.

“Tapi, itulah dinamika hidup. Kerja sama ini harus disyukuri. Dari pada bersahabat lama seperti bersaudara, tetapi akhirnya bermusuhan sampai mati. Raam juga mengamini hal ini,” kata wartawan senior yang mengawali karirnya di Harian Angkatan Bersenjata pada 1975 itu.

View the original article here

La Galigo Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

Makassar (ANTARA News) – Warisan budaya Bugis-Makasssar, I La Galigo, diusulkan untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia.

Ahli Budaya Sulawesi Selatan, Dr Mukhlis Paeni, di Makassar, Selasa, mengatakan, sastra I La Galigo memiliki banyak nilai budaya dan layak untuk mendapatkan penghargaan secara internasional.

Penghargaan sebagai warisan budaya dunia ini, kata dia, menunjukkan bahwa I La Galigo tidak hanya menjadi masyarakat Sulsel, melainkan juga masyarakat intenasional.

“Tidak ada yang bisa membantah bahwa I La Galigo merupakan warisan sejarah yang sangat besar, baik dalam konteks budaya, sejarah, sastra, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Menurut dia, pengusulan I La Galigo untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia menjadi sangat penting di era ekonomi kreatif dan juga industri budaya yang semakin berkembang.

Ia menambahkan, budaya harus juga bisa dikelola sebagai mata tambang yang bisa menambah khasanah kehidupan masyarakat.

“Apalagi, I La Galigo sendiri bisa dikatakan sebagai produk budaya yang bisa menjadi sarana pengembangan nilai serta karakter bangsa,” terangnya.

Proses pengusulan I La Galigo ini, kata dia, sudah mulai dilakukan sejak dua tahun lalu, dan diajukan melalui dialog ilmiah dengan Memory of the Word (MOW) Unesco.

Hasil dialog ilmiah tersebut diajukan ke tingkat nasional dan kemudian diajukan lagi hingga ke tingkat internasional.

“I La Galigo sendiri merupakan salah satu warisan budaya yang diusukan bersama dengan dua warisan budaya yaitu, Babad Diponegoro dari Pulau Jawa dan juga Mak Yong dari Kepulauan Riau,” tandasnya.

Menurut dia, perlu pengawalan serius untuk bisa mewujudkan I La Galigo menjadi salah satu warisan budaya dunia, mengingat sangat banyak warisan budaya dari negara lain yang juga diusulkan.

(ANT-103/S026)

View the original article here